Showing posts with label tips tentang dunia kerja. Show all posts
Showing posts with label tips tentang dunia kerja. Show all posts

Wednesday, June 30, 2010

5 Careers in Geriatrics


By : Careerbuilder

The U.S. Bureau of Labor Statistics projects that the health care industry will grow about 22 percent through the year 2016, adding 3 million jobs to the medical field. Much of that growth is driven by the aging population and their greater need for health services.

Geriatrics focuses on the general health and age-related diseases of the elderly, looking not only at biological changes that people go through as they age, but the social and psychological issues they face as they get older. Treatments must take advanced age into account as a risk factor. Perhaps more than with any other age group, careful listening and a grasp of quality of life issues are paramount for anyone considering a career in this specialized branch of medicine and related services.

In a guide to geriatrics careers prepared by the American Geriatrics Society, Dr. David Solomon, the former director of the UCLA School of Medicine's Center on Aging, called this field of medicine "the most challenging and exciting area of patient care."

"The patients are the most ill, most complex, and the most dependent on our skills and wisdom for their persistence as independent living people," Solomon wrote. "The opportunities for research in geriatrics are essentially unlimited."

Medical services will have increased focus on the elderly

As the population ages, the need will increase for many medical professionals who work with the elderly. Some career areas that have particular impact on the well-being of elderly patients are:

Nursing
Overall employment of registered nurses is expected to grow 23 percent through 2016, in part driven by the increasing emphasis on preventive care and the growth of the aging population, according to the BLS. Nurses, nursing aides and nurse practitioners, who work with the elderly and their families in home health services will see even greater growth in their sector of the nursing profession.

Physical therapy
According to the BLS, the elderly population will drive growth in the demand for physical therapy services through the next decade. In addition to age-related, chronic conditions that require therapeutic services, the baby boomers will increase the demand for cardiac and physical rehabilitation. "Job opportunities should be particularly good in acute hospital, rehabilitation and orthopedic settings, where the elderly are most often treated," states the BLS.

Pharmacy
The BLS also predicts job opportunities for pharmacists will grow by 22 percent in the coming decade, in large part because of the increasing number of older patients who require more prescriptions than younger people. Increasingly, pharmacists are called upon to counsel patients on their prescriptions and drug therapy programs. Also influencing growth in the field are rapid scientific advances that are making more drug products available and the coverage of prescriptions under more insurance plans, including Medicare.

Social work
Geriatrics social workers provide counseling, referral services and case management to older patients with ongoing medical problems. That mirrors the work they would do as social workers to children or younger adults, but with a specialized approach to working with the elderly. If a patient has several medical conditions, that may require the social worker to work with more medical personnel. The unique concerns of an elderly patient remaining as independent as possible would be one area specific to a geriatrics career in social work.

Allied health
There are as many as 100 occupational titles for the geriatrics health professionals who assist doctors, nurses and dentists, from dental hygienists to opticians to radiology technicians. As with the medical personnel they support, they must be well-versed and trained in the needs of an older population within their overall career preparation. Geriatrics care relies on teamwork among the network of nurses, physicians, therapists and home health aides, to name a few, who may work with the same elderly patient at any one time.

Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Monday, June 21, 2010

memulai karier dari awal lagi


Walaupun sudah bekerja cukup lama, dengan posisi yang baik dan penghasilan yang lebih dari cukup, pernahkah Anda berpikir bahwa sesungguhnya pekerjaan ini bukan pekerjaan yang benar-benar ingin Anda lakukan? Terkadang muncul perasaan tidak puas, ingin mencoba sesuatu yang baru, hal yang benar-benar Anda minati. Mengikuti munculnya perasaan tersebut, Anda juga merasakan gejala lain yang seperti mulai melihat dan memfokuskan hanya pada hal-hal negatif dari pekerjaan, padahal banyak hal positif lain yang bisa Anda nikmati. Anda juga mulai melihat pekerjaan sebagai rutinitas yang membosankan, walaupun sesungguhnya posisi Anda yang cukup signifikan dalam perusahaan yang terus memberikan berbagai tantangan dalam tanggung jawab.

Saat inilah muncul keinginan untuk memulai pekerjaan dan karier baru. Terlebih lagi jika Anda sudah mengetahui passion atau panggilan jiwa Anda dalam bekerja, akan semakin besarlah keinginan untuk meninggalkan pekerjaan yang ‘mengeringkan’ jiwa Anda dan beralih ke hal yang benar-benar merupakan passion hidup Anda. Sebelum Anda menyerahkan tanggung jawab Anda sebagai seorang pemimpin dan memulai pekerjaan yang baru, ada beberapa hal yang harus jadi perhatian.

  1. Think and rethink.
    Sebelum meninggalkan semua yang telah dibangun dari awal untuk sesuatu yang belum tentu 100% cocok dengan Anda, pikirkan kembali hal yang membuat Anda tidak suka dari pekerjaan sekarang. Mungkinkah yang Anda tidak sukai adalah perusahaannya bukan pekerjaannya? Apakah Anda bosan dengan rutinitas dan perlu stimulasi lagi? Mungkinkah Anda hanya butuh istirahat sejenak? Apakah hal tersebut sesungguhnya bisa diatasi dengan mudah? Pikirkan kemungkinan bahwa Anda juga akan merasakan hal yang sama jika Anda bekerja di tempat yang baru.

  2. Analisa kelebihan.
    Bertahun-tahun bekerja dalam satu bidang tertentu yang bisa saja menjadikan Anda ahli. Namun memasuki bidang baru, walaupun memang disukai belum tentu membuat Anda memiliki tingkat keterampilan yang sama. Analisa lagi apakah passion dan kelebihan Anda cukup untuk memulai karier baru dengan konsekuensinya, terlebih lagi jika Anda nantinya harus memulai dari awal lagi, sementara posisi yang dipegang selama ini adalah pemimpin. Analisa juga apakah Anda memiliki transferable skill atau keterampilan yang selama ini dibutuhkan dalam pekerjaan yang lama, juga akan berguna di karier Anda yang akan datang. Contohnya keterampilan manajemen atau keahlian mengoperasikan software tertentu.

  3. Be knowledgeable.
    Hasrat yang besar dan kecintaan akan bidang tertentu harus diimbangi dengan kesediaan Anda untuk memperbaharui keterampilan yang dibutuhkan. Bekali diri Anda dengan pengetahuan, tip dan trik agar Anda mampu keep up dengan perkembangan bidang tersebut. Dapatkan informasi sebesar-besarnya termasuk resiko, persaingan dan segala konsekuensi yang akan Anda tanggung. Jika Anda ingin mengejar impian sebagai fashion designer yang memiliki butik sendiri, update diri dengan tren yang ada, tekhnik dan pemasarannya. Begitu juga dengan bidang lain.

  4. Manfaatkan jejaring Anda.
    Salah satu cara untuk memfasilisasi usaha Anda terjun ke bidang baru adalah dengan mendapatkan informasi dari jejaring Anda. Cara ini mungkin terkesan informal tapi seringkali ada hal-hal kecil yang harus Anda ketahui dari mereka yang telah lama berkecimpung di bidang tersebut. Seperti Jika Anda mengimpikan jadi penulis, ada etika tak tertulis bagaimana mendekati editor atau berapa lama Anda harus menunggu sebelum meminta konfirmasi tentang naskah Anda dari mereka.

  5. Siapkan pengganti.
    Sejalan dengan usaha Anda untuk membekali diri dengan hal yang dibutuhkan untuk berganti karier, mulailah untuk berburu pengganti yang potensial. Ini memang sesungguhnya tanggung jawab HRD, namun sebisa mungkin Anda juga turut ambil bagian dalam memilih. Jangan tinggalkan tim Anda tanpa pemimpin yang kompeten. Terlebih lagi jika Anda memimpin tim yang selama ini menganggap Anda sebagai role model yang mengayomi. Minimize rasa kehilangan dan muluskan masa transisi mereka dengan pemimpin baru yang Anda yakini kompeten dan berkualitas. Jangan putuskan hubungan dengan mereka dan ingatlah bahwa bisa saja dimasa depan mereka memegang peranan penting dalam karier baru Anda nanti.
Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Ciri Pemimpin Yang Matang


Saat kursi kepemimpinan dipegang oleh seseorang yang masih muda, seringkali ada anggapan bahwa kapabilitas dan kekuatan karakter maupun skill dalam menghadapi tekanan akan dipertanyakan oleh orang lain maupun anak buahnya sendiri. Ada pikiran skeptis dikalangan luas bahwa orang muda tidak mampu atau setidaknya belum layak untuk memimpin. Image yang melekat dan cenderung menjadi stereotype adalah bahwa pemimpin itu harus yang senior, pintar, dan berpengalaman.

Padahal, jika melihat realitas saat ini, banyak generasi muda yang sukses membangun bisnis, bertahan dari terpaan masalah internal dan krisis global, hingga akhirnya membawa organisasi menuju puncak. Mereka juga seringkali memiliki stamina dan pemikiran-pemikiran yang fresh, out of the box yang sebenarnya mampu mendobrak stigma senior memimpin lebih baik.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kekhawatiran yang tidak perlu bahwa junior tidak memiliki mental leadership dan kurang dewasa dalam bersikap. Sebab, kedewasaan atau kematangan seseorang bukanlah ditentukan oleh usia mereka, melainkan pada kematangan emosi dan karakter.

Banyak pemimpin yang handal dalam menjalankan organisasi namun ternyata memiliki karakter kepemimpinan yang tidak berkembang, misalnya ahli dalam strategi bisnis, memiliki ide-ide yang brilian, keterampilannya dalam berbagai hal terus berkembang, namun ia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bisa membangun hubungan dengan karyawan, tidak bisa berperan sebagai mentor.

Semua sikap itu menunjukkan seorang pemimpin yang belum mature secara utuh. Sebab, idealnya seorang pemimpin bukan hanya matang jiwanya, tapi juga cara memimpinnya, tingkat intelektualitasnya, passion-nya terhadap apa yang dikerjakan, dan spiritualitasnya. Masing-masing unsur mature leadership akan dijelaskan dibawah ini:

Matang secara emosi. Pemimpin yang EQ (Emotional Quotation)-nya tinggi memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan sangat baik. Sikapnya cenderung tenang, stabil, berjiwa besar, rendah hati, dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain. Pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Akibatnya ia akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa berdasarkan penilaian subyektif dan akhirnya berbuah kesalahan. Bagaimana seorang menyikapi, merespon, dan bereaksi terhadap suatu keadaan dapat menunjukkan tingkat kedewasaan yang ia miliki sekaligus menentukan kadar interaksi sosialnya. Pemimpin yang mudah emosi, egois, asosial, dan selalu berpikir negatif akan membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman bagi anak buah, sehingga pada akhirnya dapat mengganggu kondusifitas dan produktifitas kerja.

Matang dalam bersikap. Kedewasaan seorang pemimpin akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Pemimpin yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya akan bekerja keras tanpa pamrih. Ia tidak akan menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi, selalu jujur, dan bertanggung jawab pada setiap hal yang menjadi kewajibannya. Dengan sikapnya yang selalu mengayomi dan peduli, ia dihormati dan dicintai oleh anak buahnya. Ketegasan dan konsistensinya dalam memimpin menjadi teladan bagi semua orang.

Matang secara intelektual. Tidak berarti bahwa ia harus genius dan ber-IQ tinggi. Maksudnya adalah kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan meng-upgrade diri. Kejeliannya dalam mengidentifikasi permasalahan, memilih alternatif, dan akhirnya memutuskan yang terbaik bagi organisasi. Ia harus menguasai bidangnya, baik yang dicapai melalui jalur akademis maupun berdasarkan pengalaman.

Memiliki passion yang kuat. Pemimpin merupakan tumpuan bagi pengikutnya. Jika seorang pemimpin bersikap lemah, maka anak buahnya menjadi goyah. Pemimpin yang sukses itu orang-orang yang memiliki mental kuat, tahan banting, berdaya juang tinggi, berani ambil resiko dan keluar dari zona nyaman, serta pantang menyerah. Namun, dibalik sikapnya yang terlihat agresif dan ambisius, ia adalah seorang yang humble, tidak kaku, dan pintar bergaul.

Matang secara spiritual. Pemimpin yang matang secara spiritual dapat menjadi imam bagi para pengikutnya. Kepemimpinannya dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan sehingga ia tidak akan menggunakannya dengan semena-mena. Ketaatannya pada keyakinan yang dianut dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi anak buah. Kebaikan-kebaikan dan nilai moral yang dimiliki oleh pemimpin sebagai hasil dari kerelijiusannya akan membuat pengikutnya bertambah hormat dan percaya padanya.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Tolong!! Saya Bosan dengan Pekerjaan Saya


Pernahkah Anda merasa iri dengan karyawan baru? Tentu saja bukan iri dengan gaji atau tanggung jawabnya, tetapi iri melihat antusiasme mereka yang menggebu-gebu dalam mengerjakan tugas mereka. Setiap bentuk pekerjaan yang dibebankan ke mereka diperlakukan seperti hal baru yang menuntut keterampilan dan rasa ingin tahu yang besar.

Sementara Anda yang sudah lebih lama bekerja, menghadapi setiap hari kerja seperti sebuah momok besar yang membosankan. Setelah task rutin Anda selesaikan, tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan. Lalu rasa bosan pun mulai muncul.

Jangan biarkan hal ini berlarut-larut. Membiarkannya begitu saja tanpa mengambil tindakan apapun tentunya akan mempengaruhi produktifitas dan kinerja kerja Anda. Beberapa hal sederhana yang bisa membantu Anda membunuh rasa bosan di tempat kerja adalah sebagai berikut :

1.Kreatif dengan menciptakan tantangan baru. Jika target kerja Anda sudah sukses dilaksanakan hari ini, daripada bengong memandangi jam berharap jarum-jarumnya bergerak lebih cepat, cobalah untuk memikirkan cara lain untuk menyelesaikan pekerjaan Anda. Tuliskan rencana kerja Anda dan jangan takut untuk berimprovisasi. Set target pribadi yang lebih besar dari yang sudah ditetapkan perusahaan untuk Anda. Jangan tunggu pekerjaan yang memberikan Anda semangat, namun ciptakan excitement dan tantangan dalam pekerjaan Anda.

2.Declutter meja kerja Anda. Bersihkan dan rapikan meja kerja Anda. Singkirkan barang-barang yang tidak berguna lagi. Kumpulkan kertas-kertas bekas dan reuse untuk kertas fotokopi atau memo. Selain membuat konsentrasi Anda sering terpecah, terlalu banyak barang yang tidak jelas kegunaannya di meja juga mempengaruhi mood kerja Anda. Yang harus diperhatikan adalah Anda sudah menyelesaikan task Anda sebelum merapikan meja Anda.

3.Ibaratkan pekerjaan Anda sebagai sebuah permainan atau game. Contohnya, anggap database karyawan yang harus Anda rekapitulasi adalah musuh Anda di Mafia of War atau Anda sedang bertempur dengan atasan yang terus ‘memberondong’ Anda dengan ‘peluru’ alias pekerjaan.

4.Tambah pengetahuan. Tidak harus di bidang yang berhubungan dengan pekerjaan Anda, namun bidang apa saja yang menarik perhatian dan memberikan manfaat nantinya. Internet adalah sumber pengetahuan yang tak terbatas. Anda hanya perlu berhati-hati dengan untuk memilih sumber yang kompetensinya yang bisa dipercaya.

5.Pertajam keahlian Anda. Tantang diri Anda untuk menguasai bidang yang membantu pekerjaan Anda. Tentu saja Anda harus melakukannya sendiri atau self taught. Misalnya berlatih menggunakan berbagai fitur di Adobe InDesign, crank berbagai widget, atau apapun yang bisa meningkatkan keterampilan kerja Anda.

6.Organize your file. Saat keadaan mulai membosankan, cobalah untuk melihat data yang sudah tersimpan sekian lama di komputer Anda. Kelompokkan setiap file dalam kategorinya masing-masing untuk memudahkan pencarian nantinya. Hapus file yang sudah lama dan tidak terpakai lagi. Back up data-data penting. Data yang tersusun rapi akan membantu Anda melaksanakan pekerjaan Anda. Selain itu menyusun atau membersihkan sesuatu akan memberikan sense of accomplishment sehingga semangat dan mood Anda membaik kembali.

7.Bersihkan inbox Anda. Start a new fresh start. Balas atau respon email, hapus email lama atau letakkan di temporary folder. Jika inbox Anda mencapai ribuan, letakkan semua di temporary folder.

8.Lemaskan otot. Bangun dari kursi Anda dan berjalan untuk melancarkan peredaran darah Anda setelah sekian jam duduk. Jika perlu, lakukan squats, push up atau sit up. Lakukan di ruang tertutup jika Anda malu dilihat teman kerja.
9.Dengarkan musik. Koleksi lagu-lagu yang bisa membuat Anda bersemangat dan membuat mood Anda membaik dan semangat meningkat setiap kali Anda mendengarnya.
Anda bisa keluar kantor untuk sementara, melihat pemandangan alam atau hal yang berbeda dibandingkan dengan meja dan dinding kantor Anda.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Enam "jangan" Untuk Kepemimpinan anda

Apa yang Anda rasakan sesaat setelah Anda memegang posisi sebagai pemimpin? Excited, bersemangat, bangga berbaur jadi satu. Namun diantara campuran perasaan itu, mungkin terselip juga sedikit rasa khawatir dan berbagai pertanyaan. Apa yang harus dilakukan untuk jadi pemimpin yang hebat dan dihormati karena memang kompeten untuk memimpin dan mengayomi anak buahnya? Apa yang dibutuhkan untuk mengemban tanggung jawab baru ini?

Banyak nasehat yang diberikan para senior untuk para penerusnya. Beberapa diantaranya mungkin bisa diterapkan secara general, namun ada pula hal-hal yang membutuhkan hal spesifik dan khusus sesuai dengan nature dan budaya tim Anda. Bercermin kepada pemimpin sebelumnya juga salah satu jalan, namun apakah Anda memiliki kepribadian yang sama dengan beliau? Bekerja dan memimpin dengan mengabaikan kepribadian sendiri sama saja dengan bekerja di bawah bayang-bayang orang lain.

Ada beberapa “jangan” yang bisa membantu Anda menjalankan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

  1. Jangan berhenti untuk mematangkan karakter.
    Inilah salah satu asset berharga yang akan membantu menjalankan tugas sebagai pemimpin, termasuk untuk memperoleh respek dari anak buahnya. Hal ini bisa ditandai dengan karisma yang dimiliki, mampu menjaga perilaku, emosi dan bersedia untuk terus meningkatkan intelegensia. Teruslah untuk berusaha mematangkan karakter Anda. Ambil pelajaran dari pengalaman sendiri dan orang lain, termasuk pemimpin Anda terdahulu. Tentunya selama terbukti efektif diaplikasikan dengan tim Anda sekarang. Perhatikan cara Anda menyelesaikan masalah dan krisis, ingatlah untuk selalu berpegang pada prinsip yang Anda anut, namun jangan lupa untuk menjadi fleksibel selama tidak membuat Anda jadi bermuka dua dan jadi orang yang tidak memiliki pendirian.
  2. Jangan main tebak-tebakan dengan anggota tim Anda.
    Akan sulit bagi mereka untuk bekerja jika instruksi dan ekspektasi Anda tidak disampaikan dengan jelas. Pastikan untuk check and recheck pemahaman mereka akan instruksi dan harapan serta standar kerja dari Anda. Jika karyawan tersebut sudah berpengalaman biarkan mereka menjalankan tanggung jawab dengan cara mereka sendiri selama tidak melanggar kode etik perusahaan dan kemanusiaan. Namun jika dibutuhkan, selalu siaplah untuk memberikan saran tentang cara menjalankan tanggung jawab pekerjaan.
  3. Jangan berusaha untuk mengubah tim.
    Setiap anggota telah memiliki cara kerja dan gaya sendiri untuk menyelesaikan tugas kerja. Sekalipun Anda merasa strategi mereka sudah seharusnya diganti, tahanlah keinginan untuk mengkritik dan merombak gaya mereka. Selama hasil yang diberikan sesuai dengan target, biarkan tim Anda menjalankan tanggung jawab mereka dengan cara yang dirasa paling nyaman. Namun Anda harus selalu siap saat masing anggota meminta saran dari Anda atau saat kinerja dan target mereka tidak sesuai harapan. Membiarkan mereka dengan caranya sendiri bukan berarti Anda tidak tahu detail pekerjaan mereka.
  4. Jangan mengambil semua pujian.
    Saat target terpenuhi bahkan terlampaui, saat Anda menerima pujian karena kesuksesan memimpin tim, pastikan untuk membagi setiap sanjungan kepada anggota tim. Tunjukkan bahwa kesuksesan Anda tidak berarti tanpa kerja keras semua anggota tim. Ucapkan terima kasih kepada mereka atas kerja keras dan loyalitas yang diberikan. Jika memungkinkan jangan segan untuk membagikan bonus selama sesuai dengan prestasi kerja.
  5. Jangan cuma bicara.
    Daripada selalu menggunakan kata-kata untuk ‘menggeber’ semangat kerja, tunjukkan dengan melakukan tindakan yang nyata. Mulailah dengan hal sederhana seperti mematuhi peraturan kantor untuk datang tepat waktu, tidak perhitungan dengan jam kerja saat harus mengejar tenggat, bersedia untuk terus mengupgrade diri, terbuka terhadap pendapat orang lain dan perubahan.
  6. Jangan gampang “meledak”.
    Tidak selamanya pekerjaan Anda menyenangkan. Akan ada saat Anda ingin ‘meledak’ karena emosi dan marah. Ketika saat itu tiba cobalah untuk menahan diri untuk tidak memuntahkannya saat itu juga. Ingatlah bahwa respek dari anak buah dengan mudah bisa hilang saat melihat atasannya kehilangan kendali atas emosinya didepan umum.
Remember!
Di atas langit masih ada langit, jangan lupakan orang-orang yang ada di belakang Anda

Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Tidur Siang Untuk Produktifitas Kerja


Tidur siang bisa meningkatkan produktifitas. Benarkah? Kedengarannya bertolak belakang dengan pemahaman dan praktek yang dilakukan selama ini. Bukankah selama ini kita di’doktrin’ dengan pemikiran untuk memanfaatkan setiap waktu yang ada, termasuk jam makan siang dan setelah jam kerja, untuk meningkatkan produktifitas dan kinerja kerja? Rasanya tidak terbayangkan jika harus tidur siang di sela-sela waktu istirahat. Alih-alih dianggap sebagai usaha untuk boosting productivity, bisa-bisa saya dianggap pemalas, mungkin itu yang ada di pikiran Anda.

Mengapa sebaiknya tidur siang?

Sebuah fakta yang diujarkan Dr. Sara C. Mednik dalam bukunya “Take a Nap! Change Your Life” justru menganjurkan untuk tidur siang. Menurut beliau, tidur siang membantu proses memori, kesiagaan dan belajar hal baru. Hal-hal penting yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari. Terlebih lagi jika waktu tidur malam kurang dari waktu yang direkomendasikan yaitu 8 jam. NASA juga menyetujui hal yang sama. Penelitian mereka menunjukkan bahwa tidur siang selama 26 menit bisa meningkatkan performa sebanyak 34%.
Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa power nap selama 20 menit di siang hari memberikan tubuh kesempatan untuk berisitrahat lebih baik dibandingkan tidur dengan waktu yang sama di pagi hari. Naturally, tubuh mulai merasakan kelelahan setelah terjaga selama 8 jam, karena itulah tidur siang merupakan saat yang tepat untuk mengembalikan kesegaran tubuh.

Berapa lama sebaiknya Anda tidur siang?

Banyak pakar yang menyarankan untuk tidur selama 15 – 30 menit. Akan tetapi sebuah riset juga menyebutkan bahwa tidur siang selama 1 jam akan memberikan dampak perbaikan dan peningkatan fungsi kognitif lebih baik dari tidur siang hanya selama 30 menit. Namun tentunya hal ini harus disesuaikan dengan waktu yang Anda miliki. Jika waktu yang tersisa hanya 15 menit, manfaatkanlah untuk tidur. Cobalah untuk memejamkan mata dan rileks hingga Anda terlelap. Rileks membantu untuk mengurangi stress dan menyegarkan pikiran Anda. Hal ini tentunya akan memberikan Anda nergi lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan sampai jam kerja berakhir.

Mungkinkah dilaksanakan dan bagaimana?

Beberapa perusahaan di Jepang menyediakan ruangan bagi karyawan yang ingin tidur siang. Bahkan di Cina, ada hukum yang menjamin waktu untuk istirahat sejenak setelah makan siang. Di kota-kota besar di Spanyol, banyak restoran yang menyediakan tempat bagi karyawan untuk tidur sejenak setelah makan siang. Sudah sejak lama tidur siang jadi kebiasaan masyarakat di kota-kota di Eropa. Mulai banyak manajemen perusahaan yang memperhatikan kebutuhan tidur siang karyawan karena lagi-lagi sebuah penelitian membuktikan kalau pekerja yang terlalu lelah bisa merugikan perusahaan hingga USA $150 milyar karena produktifitas yang berkurang.

Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia rasanya belum ada perusahaan yang menerapkan kebijakan untuk tidur siang. Alhasil, karyawan harus pandai-pandai memanfaatkan waktu istirahat yang ada untuk tidur siang. Karena waktu terbaik untuk tidur siang adalah sekitar jam 1 – 3 siang, cobalah untuk menyisihkan waktu setelah makan siang untuk memejamkan mata sejenak, walaupun waktu yang tersisa hanya 5 menit. Padamkan lampu ruangan atau carilah ruangan yang minim cahaya dan suara karena kedua faktor ini membantu untuk terlelap lebih cepat.

Jika Anda tidak memiliki waktu sama sekali untuk tidur siang atau merasa tidak nyaman melakukannya di tengah hingar bingar kantor, cobalah untuk melakukan meditasi. Hal ini memberikan kesempatan bagi tubuh untuk istirahat dan membantu memproduksi gelombang otak yang sama seperti saat kita tidur.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

6 Sikap Kerja yang Umumnya Tidak Sukai Atasan


Enam Sikap Kerja Yang Tidak Disukai Atasan Pada Umumnya

1. Kalau melakukan kesalahan, tidak cepat-cepat lapor ke atasan.
Alasannya biasanya cukup klasik, yaitu takut dimarahi oleh Boss. Cepat lambat pasti ketahuan juga dan akan dimarahi oleh atasan, maka sebaiknya, bertindak secara jujur dan gentle, dan jelaskan kesalahan Anda apa adanya. Semakin jujur dan cepat mengakui, semakin baik!

2. Menolak tugas-tugas tambahan dari atasan
Kadangkala, atasan akan menguji, sejauh mana Anda memiliki tingkat ketaatan yang tinggi. Sejauh mana kesiapan Anda bersedia menolong beban kerja atasan. Sejauh mana juga, Anda siap berkorban demi kesuksesan bagian yang dipimpin oleh atasan. Semakin Anda menunjukkan dukungan, semakin Anda akan dapat nilai plus dari atasan

3. Terlalu diam atau terlalu cerewet
Pada umumnya atasan tidak terlalu suka terhadap karyawan yang terlalu diam, pasif, kurang inisiatif, takut salah mengutarakan pendapat, baru bicara kalau ditanya, dan kurang proaktif. Namun ekstrem selanjutnya, kebanyakan atasan juga tidak suka kepada jenis karyawan yang banyak bicara tetapi tidak berprestasi, terlalu banyak kritik tetapi tidak punya “way-out”, terlalu banyak mengeluh tetapi tidak memiliki solusi, tukang gosip, terlalu banyak bercanda dan kurang mendengarkan orang lain.

4. Yang ingin menonjolkan diri sendiri
Jenis karyawan seperti ini biasanya selalu memanfaatkan berbagai situasi untuk terlihat “lebih” dihadapan atasan ( lebih pandai, lebih menonjol, lebih menarik perhatian, dsb ). Biasanya karyawan tipe ini selain akan dijauhi oleh para rekan kerjanya, juga akan membuat si Boss tarik nafas melihat ulah ”lebay”nya

5. Tipe orang yang bila diberi tugas, “ngak ngerti-ngerti aja”
Orang seperti ini akan bolak balik tanya pada si atasan tentang tugas yang harus dijalankan. Selain menyita waktu atasan, perilaku ini akan sangat menjengkelkan, karena si karyawan terlihat tidak siap untuk tugas-tugasnya

6. Tipe karyawan yang bila ditanya, tidak siap menjawab
Yang terakhir, adalah tipe karyawan yang kalau ditanya berbagai tentag tugasnya sering menjawab,”Wah, ada dibuku catatan saya Pak. Catatannya ada dimeja kerja,…ketinggalan dirumah,….kehapus karena virus komputer….,dll” Intinya, kalau ditanya data tertentu, selalu tidak bisa jawab dengan cepat.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia

Bookmark and Share

9 Pertanyaan Sifat dan Karakter Pada Tes Wawancara Kerja

by, akhmadGuntar

Pertanyaan tentang karakter dan sifat bisa jadi merupakan yang paling subyektif dari semua jenis pertanyaan yg ada. Gawatnya, hal ini kadang bisa terpengaruh banget oleh mood (dan siklus hormonal juga). Dan menariknya, mood dan kondisi produktif kita juga bisa dipengaruhi oleh waktu. Maksudnya, Anda ngerasa ngga klo Anda merasa paling produktif pada waktu-waktu tertentu dalam satu hari, atau waktu-waktu tertentu dalam satu minggunya. Bagi banyak orang, hari senin adalah hari yg kurang mbikin semangat. Entah karena kecapekan akibat lelah beristirahat pada sabtu minggunya atau benar-benar karena males.

Apapun deh, menghadapi pertanyaan tentang karakter dan sifat tidaklah menjadi begitu mudahnya mentang-mentang kita sudah tau banyak tentang teori kepribadian plus.

Baik, mari kita mulai:

1. Menurut Anda sendiri… apakah Anda ini pintar?

(ingat, ada beda antara rendah hati dan rendah diri. Dan ini bukanlah waktu untuk menjadi sempurna pada keduanya.)

Iya. Dalam artian bahwa kepintaran di sini bukan sekedar diukur dari hasil tes IQ. Saya pikir kepintaran seseorang akan benar2 tampak ketika seseorang menghadapi beragam situasi dan berinteraksi dengan banyak orang. Dan dari aspek itulah saya merasa miliki keunggulan. Saya memiliki rasa percaya diri yg besar pada kemampuan saya untuk bekerja dengan orang lain, menyelesaikan permasalahan bisnis, dan juga membuat keputusan yg terkait urusan kerja. Tentu saja masih ada banyak hal yang saya belum tahu, tapi saya optimis bahwa saya bisa mempelajarinya. Sehingga saya lalu juga mengartikan kepintaran sebagai kemampuan yg baik untuk mengajukan pertanyaan pintar, mendengarkan dengan seksama, dan menyadari tak ada orang yg tahu tentang segalanya.

2. Apakah Anda merasa bosan bila harus melakukan pekerjaan yg sama berulang-ulang?

Tidak juga. Bila pekerjaan itu memang sudah menjadi tugas saya, maka saya tidak akan merasa bosan karena itu memang tanggung jawab saya untuk merampungkannya dengan kemampuan terbaik. Menurut saya, pekerjaan itu tidaklah harus punya sifat menghibur, yang penting saya telah meyakini bahwa itu adalah harga yg harus dibayar untuk meraih kesuksesan yg lebih tinggi.

Saya berpendapat bahwa bila ada seseorang yang mudah bosan dengan repetisi, maka dia bisa jadi akan mengalami masalah yg cukup serius nantinya. Karena terkadang kita harus mengesampingkan kesukaan kita dan berfokus pada melakukan apa-apa yang memang harus dilakukan – meskipun itu bukanlah suatu hal yg baru.

Saya pikir sampai saat ini saya sudah terlalu sibuk untuk mengerjakan tugas saya sehingga sampai-sampai tidak sempat untuk merasa bosan :wink:

3. Anda lebih menyukai kerja dalam tim atau sendirian?

Bekerja dalam tim adalah salah satu elemen terpenting dalam sukses karir dan juga hidup. Sepengetahuan saya, bila seseorang tidak bisa bekerja dengan baik dalam tim, maka dia pun biasanya juga akan susah untuk bekerja dan berkomunikasi secara produktif dalam hubungan orang per orang.

Meskipun kerja tim amatlah penting, namun saya tetap mampu produktif dalam bekerja sendirian. Terkadang tekanannya memang terasa lebih berat, tapi saya sudah terbiasa untuk menganggapnya sebagai tantangan. Terkait manakah yg saya pilih; apakah bekerja dalam tim atau sendiri, maka itu tergantung pada manakah cara yg terbaik untuk merampungkan pekerjaan. Atas pilihan mana pun, saya masih bisa bekerja sama kerasnya dan dengan inisiatif penuh.

4. Apakah Anda suka bekerja dengan “benda”; apapun bentuknya?

(bila memang iya, apalagi pekerjaannya memang membutuhkan kompetensi teknis)

Ya, sedari dulu saya memang punya bakat dan kecepatan dalam mempelajari kemampuan teknis. Saya suka sekali bekerja dengan mesin dan gadget. Ketertarikan saya itu membuat saya bisa mengoperasikan banyak perangkat. Meskipun begitu saya juga punya kemampuan untuk mengkonseptualisasi sebuah penugasan dan lalu menerjemahkan konsep itu ke dalam bentuk konkrit implementasi di lapangan (baca: artinya klo Bapak ngasih saya perintah, bapak ndak perlu tahu tentang cara pengoperasian perangkat/mesin/gadget untuk memfasilitasi perintah itu. Cukup katakan saja perintahnya, ntar saya bisa kok mendayagunakan semua perangkat/mesin itu untuk memfasilitasi keinginan bapak.)

5. Apakah Anda suka bekerja dengan angka?

(bila memang iya, atau bila pekerjaannya memang membutuhkan kemampuan analitis dan matematis)

Tentu saja. Itu memang yang menjadi dasar untuk pekerjaan ini. Saya punya bakat yang kuat dalam mengurusi angka saya mampu menangani sisi hitung-hitungan dari bisnis. Pencatatan dan pembukuan yang akurat memang bagian manajemen yang penting dan bisa membantu dalam menunjukkan wilayah-wilayah yang bisa dikembangkan. Dan di bagian situlah saya memiliki bakat dan kemampuan.

6. Apakah Anda suka bekerja dengan orang?

(bila memang iya, atau situasi yang diharapkan memang adalah kerja tim)

Iya, sangat. Bila kita bermaksud untuk memenuhi target dan menindaklanjuti rencana pertumbuhan yang telah dicanangkan, maka kita memang harus mengatur dan mengkoordinasi kerja dari banyak orang. Saya percaya dengan kekuatan sinergi dalam kerja tim, di mana daya kreativitas yang muncul di sana akan lebih besar ketimbang yang bisa dimunculkan oleh orang per orang secara sendiri-sendiri.

(tapi bila tidak, atau bila pekerjaannya menuntut Anda untuk bisa kerja sendirian)

Saya selalu bisa bekerja dengan orang lain, tapi saya tak punya kesulitan untuk bekerja sendirian. Saya punya kemampuan inisiatif yang besar. Saya juga bisa membuat target-target secara mandiri, atau menjalani target yang ditugaskan dan merampungkannya.

7. Apakah Anda betah menangani hal-hal detail?

Iya, saya kira begitu. Saya bersedia melakukan apa-apa yang ditugaskan kepada saya. Bila ketelitian ekstra pada detail adalah salah satu prasyarat di dalamnya, maka saya pun akan melakukannya. Saya percaya bahwa sukses dan percepatan karir adalah hasil langsung dari terlaksanya tugas dengan baik, termasuk di dalamnya adalah ketelitian pada hal-hal yang detail.

8. Apakah Anda punya jiwa kompetitif?

Iya, saya punya itu. Menurut saya, sifat kompetitif itu diperlukan agar bisa sukses di lingkungan korporat. Namun dengan sifat kompetitif ini bukan berarti berkompetisi secara ganas dengan rekan kerja untuk mendapatkan pengakuan, kenaikan gaji, atau promosi. Bila saya bekerja dengan baik dan selalu memberikan upaya terbaik, saya yakin imbalannya pasti akan datang.

Yang penting, kompetisi terbesar adalah dengan diri saya sendiri. Maksudnya, saya selalu berusah memecahkan rekor pribadi saya sendiri – untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik atau lebih cepat dari yang sudah pernah saya lakukan.

9. Apa yang Anda lakukan bila Anda punya cara pandang yang berbeda dengan atasan?

Yang jelas saya bukan seorang yes-man. Tapi meskipun begitu, saya cukup berhati-hati dengan bagaimana saya mengekspresikan pendapat. Saya tidak akan seenaknya menyatakan ketidaksepakatan saya atas pimpinan di depan banyak orang. Karena saya tahu rata-rata orang tidak suka dicela di depan umum. Selama rapat berlangsung, saya biasanya membuat mencatat dengan baik, lalu memberikannya kepada orang lain secara rahasia. Saya percaya kita bisa menunjukkan ketidaksepakatan dengan tanpa menunjukkan sikap pertentangan. Yang penting kan bukan ketidaksepakatan kita itu, namun adalah agar pendapat kita didengar dan dihargai. Dan saya tahu betul bahwa cara kita menyampaikan sesuatu akan menentukan apakah pendapat kita akan didengarkan atau tidak.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

4 Tabiat Dunia Kerja yang Harus Anda Tahu

by,akhmadGuntar


Berikut ini adalah beberapa tabiat dunia kerja yg Anda harus tahu agar bisa menyiasatinya, khususnya bagi Anda-anda yg baru mau terjun di dunia kerja. Beberapa darinya mungkin Anda ndak suka, atau bahkan tidak bersepakat dengannya. Apapun deh, nyatanya semua yang disampaikan di sini benar-benar terjadi di dunia kerja.

1. Anda Pasti Akan Dibayar Seminimal Mungkin

Perlu teknik negosiasi gaji yang mantab untuk mendapatkan gaji yg diinginkan, karena dengan jabatan yg sama, gaji bisa beda jauh. Buat yg sudah kerja, ini tentu sudah jadi pengetahuan umum. Tapi bagi yg belum pernah bekerja, mereka pikir bukannya gaji di perusahaan udah ada standarnya. Mereka pada bertanya, “Kenapa kok bisa gitu?”

Pertama, perusahaan pikir masih ada banyak orang yg bersedia menggantikan posisi Anda jika memang Anda keberatan dengannya. Lalu bila Anda protes tentangnya, bisa-bisa harus ucap selamat tinggal pada promosi. Yg jelas secara mendasar biaya karyaw
an masuk di prosentase terbesar dari total biaya perusahaan. Komponen biaya ini biasanya dimonitor dalam berbagai pelaporan dan budgeting. Ini adl salah kunci penentu performa perusahaan. Semakin kecil biaya

Jadi gimana dong?
Jika Anda memang lebih butuh jaminan aman -kerja yg ‘mapan’- ketimbang gaji yg gede, ya silahkan menahan diri -ndak usah buru-buru protes- dan baru ajukan permohonan Anda untuk naik gaji pada saat review tahunan.

Secara umum, Anda memang perlu membangun CV yg benar-benar berkilau dan berani proaktif. Proaktif dalam artian Anda perlu mengajukan diri untuk tangani project, ambil tanggung jawab lebih, keluarkan saran-saran bermutu, sambil kadang-kadang menelan harga diri dan bersikap kompromis terhadap sikap/keputusan atasan.

2. Anda “Ndak Kan Bisa” Ndapetin Banyak Uang Slama Masih Kerja Buat Orang Lain

Ada berapa banyak sih jumlah manajer senior di tempat kerja Anda? Dan bagaimana juga di tempat lain? Rasionya paling2 berkisar antara 40:1 sampe 200:1. Seperti yg dikatakan oleh sang Tuti, cuman sedikit saja karyawan yg bisa dapet 80 juta-an per bulan. Jadi bila Anda bisa dapatkan pendidikan, latar belakang, kemampuan, koneksi dan barangkali “keberuntungan” yg sama seperti mereka, itu lah yang akan mempertinggi peluang Anda untuk bisa dapatkan uang sebesar yg mereka dapat. Tapi bila Anda ndak punya salah satu apalagi beberapa darinya, peluang Anda pun jadi menurun tajam.

Jadi sekarang silahkan bertanya pada diri sendiri, mau nunggu sampai kapan sampe bisa ndapetin gaji seperti atasan-atasan Anda? Begitu sudah waktunya Anda dapet uang yang sama seperti mereka, jangan-jangan sudah keburu mau pensiun. Padahal Anda kan mau uangnya sekarang pengen beli rumah, nyekolahkan anak, dan seterusnya.

Jadi, apa yg bisa dilakukan?
Anda bisa terus bertahan dan “menunggu” hingga Anda dapatkan promosi demi promosi.

Atau Anda bisa masuk ke sektor usaha yg prospektif mendatangkan banyak uang seperti informatika atau finance. Masing-masing nya membutuhkan spesialisasi dan upaya investasi waktu, biaya belajar yg lumayan. Dan harus dipastikan dulu bahwa Anda bisa benar-benar menikmatinya.

Atau Anda bisa seriusi hobi Anda untuk temukan cara-cara yg bisa beri kemanfaatan bagi orang lain dan jadi ahli di sana. Buka mata dan telinga lebar-lebar, ngobrol-ngobrol dg teman, cari-cari sapa yg kira2 bisa diajak bisnis bareng. Inget-inget apa sih yg bisa dipelajari dari atasan yg bisa diterapkan di luar? Ada ngga kerjaan di perusahaan yg bisa Anda lakukan secara lebih baik dan murah? Ada ngga gagasan luar biasa yg tidak diloloskan oleh pihak manajemen? Akumulasikan apa-apa yg Anda tahu, sapa tahu itu bakal berguna.

3. Bukan Tentang Apa, Namun Siapa

Bukanlah tentang apa-apa yg Anda tahu, melainkan siapa-siapa saja yg Anda kenal dan lantas siapa-siapa saja yang kenal dengan anda. Ketika Anda sudah bisa meningkatkan performa dalam hal kualitas, kuantitas dari aspek pekerjaan, maka Anda harus membuat orang yg tepat mengetahui tentangnya. Orang yg tepat? Iya, orang-orang yg punya kuasa untuk mempromosikan Anda dan yg mana omongannya begitu diperhatikan.


4. Perhatikan dg Siapa Anda Diasosiasikan

Anda nggak harus berkumpul dg orang-orang yg ndak cocok dg nilai-nilai Anda. Di tempat Anda kerja, amat bisa jadi ada orang-orang yang sukanya mengeluh, menggerutu, menggosip, gosip fitnah, hingga yang sukanya ngutil barang-barang kantor sampai korupsi. Mereka akan cari-cari kesempatan untuk menyalurkan hasrat mereka.

Kecuali Anda memang berniat mengentas mereka dan punya kekuatan pengaruh yg kuat, maka sebaiknya Anda tidak masuk pada lingkar pertemanan mereka. Bahkan jangan sampai terlihat akrab dengan orang-orang semacam itu. Atasan Anda pastinya tau siapa-siapa saja orang yg sukanya gosip, berbohong dan males-malesan klo dikasih kerjaan. Jika Anda berteman dg orang-orang semacam itu, maka yg terjadi adalah guilty by association, Anda akan ikut kena getah tanpa perlu menjadi sumber getah.


Job Vacancy , Indonesia Job, Job Indonesia


Bookmark and Share

Tiga Modal Dasar Memasuki Dunia Kerja


by, Yodhia Antariksa


Ada banyak elemen kecakapan yang mesti dikuasai oleh setiap insan yang hendak memasuki dunia kerja, namun terdapat tiga modal dasar yang kiranya amat penting untuk dimiliki.


Pertama,
karakter atau budi pekerti yang luhur atau integritas moral yang kokoh. Inilah elemen yang selalu akan membuat kita mampu berkarya dalam naungan etika kerja yang kuat dan benar. Sebuah elemen paling kritikal dan mesti dirajut dalam setiap langkah kerja kita manakala kita hendak menjadi seorang profesional yang bermartabat.

Kedua,
positive mindset. Inilah elemen yang akan membuat kita selalu memandang diri kita dan lingkungan sekitar dengan kacamata yang positif. Sebuah elemen yang selalu membuat kita optimis dan yakin akan tercapainya sasaran kerja dan tujuan hidup yang telah dirancang. Sebuah etos kerja yang selalu melihat problem sebagai sebuah tantangan yang pasti ada solusinya, dan bukan sebagai media untuk berkeluh kesah. Etos atau mentalitas positive mindset ini pula yang akan memuat setiap insan selalu bisa merajut kegigihan dan ketekunan dalam berusaha – dan kita tahu, kegigihan merupakan elemen kunci dalam merengkuh setiap jejak kesuksesan.

Ketiga,
learning spirit. Atau, semangat untuk terus mau belajar. Di tengah dinamika perubahan iklim bisnis yang terus berderap dan tantangan pekerjaan yang makin kompleks, kita dengan mudah bisa terpelanting saat kita enggan menebar benih untuk terus mau belajar mengembangkan diri. Bersikap terbuka, selalu memelihara constructive curiosity, serta rajin mengambil ilmu dari beragam sumber adalah elemen-elemen yang akan membuat kita terus bisa mengasah learning spirit kita.

Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

Minta Naik Gaji Donk, Bos..


Jika prestasi kerja anda sangat baik, semua target tercapai, dan perusahaan menikmati keuntungan yang lumayan, wajar dong jika gaji naik. Gimana caranya meminta gaji yang efektif?

Naik gaji? Wah memang impian bagi semua karyawan. Apalagi jika prestasi kerja lagi di puncaknya, semua target tercapai, dan perusahaan menikmati keuntungan yang lumayan, wajar dong jika gaji naik. Bagus tidaknya gaji alias salary yang kita terima memberikan kepuasan tersendiri terhadap hasil kerja kita. Karena apa yang kita peroleh tersebut merupakan penghargaan dari kerja keras kita.

Tapi soal minta kenaikan gaji ini bukan perkara mudah bagi kebanyakan karyawan. Selain merasa sungkan mengutarakan permintaan kenaikan gaji, banyak orang yang merasa tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk minta naik gaji. Takut salah bicara, salah tingkah, dan memilih menunggu kenaikan gaji regular (yang artinya masih berbulan-bulan lagi) masih saja menjadi momok. Padahal, jika yakin dengan pencapaian Anda untuk perusahaan, permintaan kenaikan gaji sebenarnya sah-sah saja.

Kalau Anda masih mengalami rasa keragu-raguan atau susah untuk meminta kenaikan gaji pada atasan dan bagaimana caranya, berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan :

* Kenali diri sendiri

Cobalah melihat segala aspek dari pekerjaan Anda dan lakukan riset kecil-kecilan untuk mengetahui daya jual Anda – baik di dalam maupun di luar perusahaan. Jangan ragu bertanya kepada rekan kerja maupun kolega yang berkecimpung di bidang yang sama. Cari tahu juga range gaji untuk jabatan yang sama di kota Anda.

* Pahami posisi perusahaan

Anda harus ingat mengenai bagaimana kebijakan perusahaan di bidang kepegawaian. Jika Anda sendiri naik gaji dengan persentase yang terlalu mencolok, maka bisa berpotensi menimbulkan kecemburuan yang hanya menjadi kontra produktif. Lebih bagus lagi jika Anda tahu bagaimana pandangan atasan Anda soal kenaikan gaji sebelum Anda datang menemuinya. Selain itu perhatikan pula kondisi financial dari perusahaan Anda, dan dalam kondisi seperti apa. Percuma saja jika karir Anda melonjak bagus, namun perusahaan Anda sedang berada pada level yang pas-pasan.

* Persiapkan matang-matang keinginan

Anda tersebut. Persiapan memang sangat penting untuk Anda, terutama agar negosiasi dengan bos bisa sukses. Jadi persiapan yang perlu dilakukan, merupakan hal yang sangat penting agar usaha Anda tidak sia-sia.

* Buatlah rencana

Membuat rencana yang matang tentang langkah-langkah meminta kenaikan gaji. Buatlah janji untuk bertemu dengan atasan secara khusus. Hal ini jauh lebih baik daripada langsung mengetuk pintu ruang kerja sang bos untuk meminta kenaikan gaji. Susun pula strategi yang runtut dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

* Bersikaplah Persuasif.

Memang sangat susah untuk bisa menjelaskan kepada bos agar gaji kita naik. Namun, semua itu bisa dilakukan dengan pendekatan yang persuasif sehingga bos bisa percaya ke Anda. Lakukan dengan hati-hati agar hubungan dengan bos tidak terganggu. Namun, bila Anda sudah bisa memberi penjelasan sehingga bisa ditanggapi, tentunya kemungkinan bakal naik gaji juga sangat besar.

* Bersikap realistis

Tak peduli Anda seorang penjual yang ulung atau malah direkrut dengan gaji awal terendah dibanding lainnya, kebanyakan perusahaan tidak akan seketika memberikan kenaikan gaji yang gila-gilaan. Umumnya perusahaan lebih memilih menaikkan gaji dalam hitungan persentase. Sadarilah hal ini.

Fokuskan diri pada apa yang layak Anda dapatkan, bukan apa yang Anda butuhkan. Perusahaan tak akan peduli jika Anda tak bisa membeli rumah baru atau mobil baru idaman gara-gara gaji tak dinaikkan. Hal itu merupakan urusan pribadi Anda. Jadi fokuslah pada apa yang layak Anda dapatkan, seberapa besar peran Anda dalam keberhasilan perusahaan dan nilai tambah apa yang bisa Anda berikan pada perusahaan selama ini.

* Tunjukkan Anda bersemangat

Perlihatkan pada bos Anda bahwa Anda bersemangat dengan pekerjaan ini. Antusiasme akan membuat bos melihat bahwa Anda punya kualitas. Pada saat yang sama, ketika mendiskusikan kompensasi, jelaskan bahwa Anda menyukai pekerjaan ini, atau ingin terus berada di perusahaan ini, tapi nilai rupiah yang tidak karuan membuat Anda harus memikirkan soal finansial.

* Tunjukkan komitmen pada perusahaan

Konduit salah satunya dinilai dari sisi ini. Jangan ragu menceritakan kembali bagaimana Anda menangani proyek yang baru, berhubungan baik dengan semua pihak dan bila ada kesetiaan pada perusahaan saat hal buruk pernah terjadi (misalnya saat krisis ekonomi melanda, sepi atau gagal proyek, dll). Kadangkala hati kecil seperti tak pernah telat absen bisa sangat membantu dalam negosisasi kenaikan gaji. Tak ada salahnya pula menceritakan tentang kursus bahasa asing yang Anda ambil dan berguna bagi kemajuan perusahaan.

* Fokus pada masa depan

Jangan lupa pula untuk mengutarakan rencana Anda ke depan untuk membantu atasan, departemen, maupun organisasi secara keseluruhan. Anggap saja prestasi kerja yang sekarang adalah batu pijakan untuk kesuksesan di masa depan. Intinya, “jual” diri dengan modal yang Anda miliki saat ini.

* Buat strategi yang baik, tapi biarkan atasan Anda menentukan

Usahakan jangan menyebut berapa kenaikan yang Anda inginkan terlebih dulu. Utarakan saja maksud Anda dan biarkan bos yang terlebih dulu menawarkan kenaikan gaji dalam rupiah atau persentase. Jika penawaran sudah diajukan atasan, jangan langsung bereaksi. Pikirkan dulu baik-baik baru berikan jawaban Anda. Usahakan raut muka dan ekspresi Anda tak terbaca. Bila perlu, minta waktu untuk memikirkan tawaran atasan tadi.

Setelah membaca beberapa tips diatas, kini saatnya berkata “minta gaji naik donk bos ”.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share

The Job Interview

by, mjenisayarizona

A job interview is your chance to show an employer what kind of employee he or she will get if you’re hired. That is why it is essential to be well prepared for the job interview. Preparing means knowing about the industry, the employer, and yourself. It means paying attention to details like personal appearance, punctuality, and demeanor.

Knowledge is always your best weapon and so you should arm yourself with plenty of it. That starts with the very basic bit of knowledge regarding jobs interview. Before you research the industry and the company and even before you practice answering the questions you might be asked, you should have some general information about job interviews. Let’s start by going over the different types of interviews you might face.


Types of Job Interviews

  • The Screening Interview

Your first interview with a particular employer will often be the screening interview. This is usually an interview with someone in human resources. It may take place in person or on the telephone. He or she will have a copy of your resume in hand and will try to verify the information on it. The human resources representative will want to find out if you meet the minimum qualifications for the job and, if you do, you will be passed on to the next step.

  • The Selection Interview

The selection interview is the step in the process which makes people the most anxious. The employer knows you are qualified to do the job. While you may have the skills to perform the tasks that are required by the job in question, the employer needs to know if you have the personality necessary to “fit in.” Someone who can’t interact well with management and co-workers may disrupt the functioning of an entire department. This ultimately can affect the company’s bottom line. Many experts feel that this can be determined within the first several minutes of the interview. However, more than one person being interviewed for a single opening may appear to fit in. Often, job candidates are invited back for several interviews with different people before a final decision is made.

  • The Group Interview

In the group interview, several job candidates are questioned at once. Since any group naturally stratifies into leaders and followers, the interviewer can easily find out into which category each candidate falls. In addition to determining whether you are a leader or a follower, the interviewer can also learn whether you are a “team player.” You should do nothing other than act naturally. Acting like a leader if you are not one may get you a job that is inappropriate for you.

  • The Panel Interview

In a panel interview, the candidate is interviewed by several people at once. Although it can be quite intimidating, you should try to remain calm. Try to establish rapport with each member of the panel. Make eye contact with each one as you answer his or her question.

  • The Stress Interview

The stress interview is not a very nice way to be introduced to the company that may end up being your future employer. It is, however, a technique employers sometimes use to weed out candidates who cannot handle adversity. The interviewer may try to artificially introduce stress into the interview by asking questions so quickly that the candidate doesn’t have time to answer each one. Another interviewer trying to introduce stress may respond to a candidate’s answers with silence. The interviewer may also ask weird questions, not to determine what the job candidate answers, but how he or she answers.

According to Interviewing by The National Business employment Weekly (John Wiley and Sons, 1994), the job candidate should first “recognize that you’re in the situation. Once you realize what’s happening, it’s much easier to stay calm because you can mentally re-frame the situation. Then you have two choices: Play along or refuse to be treated so poorly.” If you do play along, the book recommends later finding out if the reason for conducting a stress interview is legitimate. That will determine if this is a company for whom you want to work.


Job Vacancy , Indonesia Job , Job Indonesia


Bookmark and Share